Copyright © motegum
Design by Dzignine
Sabtu, 01 September 2012

Pilar Kebangsaan Indonesia

(Tulisan telah diterbitkan dalam The Big Creation of Pioneer : Ispirasi Untuk Indonesia)
Inspirasi Untuk Indonesia
 Pilar Kebangsaan Indonesia
Mohamad Teguh Gumelar, Teknologi Bioproses 2011

             Ingatkah anda saat anda berada di bangku Sekolah Dasar (SD), kala anda dan teman-teman anda duduk manis mengenakan seragam putih-merah lengkap dengan sikap tangan yang terlipat di rapi di atas meja? Semua itu seolah terekam sebagai video kekuningan dalam ingatan kita semua. Bangku kayu yang tak mengkilap, serta meja yang penuh coretan dan tipe-x seakan menjadi saksi pendidikan di Indonesia. Apabila kita berada pada masa tersebut dan diajui pertanyaan “Apa yang kamu  ketahui tentang Indonesia?” maka mungkin anda akan menjawab “Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki sumber daya manusia yang melimpah, serta terletak pada lokasi yang strategis, yakni di antara dua benua dan dua samudera.”
Semua itu mengesankan Indonesia sebagai Negara kaya, subur makmur, gemah ripah loh jinawi. Namun, apabila kini pertanyaan serupa diajukan kepada anda, kemungkinan besar sebagai mahasiswa anda akan menjawab “Indonesia merupakan Negara yang banyak diantara para pemimpinnya tersandung kasus korupsi, serta negara yang mengalokasikan hanya sedikit dana untuk penelitian dan pengembangan teknologi.” Bukankah kedua jawaban tersebut terbalik? Sama seperti warna seragam SD negeri yang berkebalikan dengan warna bendera negara. Sesungguhnya, apa yang terjadi di Negara Indonesia bukanlah semata karena pemimpin yang korup atau maraknya sogok-menyogok serta KKN dimana-mana, tetapi juga karena masyarakat yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing serta terlalu asik memperhatikan kekurangan orang lain sehingga nilai-nilai persatuan, kesatuan dan kebangsaan merapuh. Oleh karena itu, menurut saya setidaknya ada tiga pilar kebangsaan yang perlu ditegakkan oleh mahasiswa, yang tidak lain merupakan bagian dari masyarakat, agar Bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang sesuai dengan pandangan para siswa SD di jaman saya dahulu. Adapun ketiga pilar tersebut adalah heroisme,  semangat juang, dan ketuhanan.
              Ketulusan dan keikhlasan mungkin telah dianggap masyarakat dewasa ini sebagai suatu hal yang bernilai sangat tinggi, bahkan beberapa acara televisi ditayangkan untuk mencari orang-orang berhati tulus yang mau membantu orang lain, dengan ataupun tanpa dimintai pertolongan, sehingga sangat laik apabila heroisme ditempatkan sebagai pilar pertama yang harus ditegakkan oleh mahasiswa. Heroisme tak pernah dapat terlepas dari kepedulian, baik itu kepedulian kepada orang lain maupun kepedulian terhadap visi kita sendiri. Apabila kita menelaah sejarah, para pahlawan pendiri bangsa Indonesia tentulah memiliki sikap heorisme dengan kepedulian tersebut. Tidak ada di antara mereka yang mengharapkan imbalan balas jasa dalam bentuk apapun, tetapi justru banyak di antara mereka yang merelakan dan menggunakan seluruh kekayaan, serta jiwa dan raga mereka untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi seluruh Bangsa Indonesia. Para pahlawan melakukan perjuangan yang tercatat dalam sejarah, karena mereka memiliki kepedulian dan sebuah visi, yakni Indonesia dapat merdeka, serta mampu menjadi negara yang sejahtera. Mereka yakin pada visi tersebut dan memperjuangkannya hingga proklamasi berhasil dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Heroisme, itulah pilar pertama yang ditancapkan oleh para pahlawan kita sebagai penopang bangsa, sehingga Indonesia dapat menjadi sebuah negara di mana kita mendapatkan kebebasan dan keamanan. Tetapi kini pilar tersebut merapuh, tergerus arus informasi yang memberikan berbagai pengaruh, baik positif maupun negatif, serta berbagai isu dan permasalahan yang mencuat dalam ranah jurnalistik dan politik. Bahkan, dewasa ini permasalahan keluarga antara anak dan orang tua tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan, melainkan membutuhkan bantuan kuasa hukum serta konferensi pers yang tentu memakan biaya serta memancing beragam argumen dari masyarakat yang melihatnya melalui layar kaca. Bukan hanya itu, masalah-masalah kecil kini kerap dibesar-besarkan sehingga jelaslah bahwa kepedulian antar sesama dan sikap heroisme mutlak ditegakkan kembali oleh mahasiswa sehingga kearifan dan kebijaksanaan lokal di masyarakat dapat kembali terbentuk dan menopang pilar pertama. Apakah kita semua harus menunggu suatu hari, dimana kasus kematian akibat kelaparan menimpa seorang ayah dan anak-anaknya di rumah mereka yang tak jauh dari rumah kita untuk mengerti arti sebuah kepedulian? Apabila kasus seperti itu pernah terjadi, saya rasa pihak yang bersalah belum tentu sang ayah, tetapi warga sekitar yang kurang peduli pada warga lain, hingga nyawa mereka terenggut oleh kelaparan, tanpa mereka ketahui atau bahkan mungkin dengan sepengetahuan mereka, dapat menjadi pihak yang bersalah.
             Kembali pada sejarah, para pahlawan Indonesia akhirnya berhasil membawa sebuah kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia, salah satu rahasia yang menjadi kunci keberhasilan tersebut adalah semangat juang yang tinggi. Kini, semangat juang tentu tidak menjadi hal yang sepele karena kemerdekaan telah diperoleh, tetapi semangat juang menjadi hal yang amat krusial untuk mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia. Semangat untuk berjuang, melawan berbagai bujuk rayu untuk melakukan tindakan yang menyalahi aturan, semangat untuk berjuang mempertahankan solidaritas antar warga negara, serta semangat untuk berjuang bersama, membangun Bangsa Indonesia, merupakan semangat juang yang penting dan perlu disertai dengan sikap optimis. Mari kita bayangkan apabila para pahlawan tidak memiliki sikap optimis. Jika hal itu benar terjadi, mungkin mereka sudah menyerah di tengah medan perang ataupun tunduk patuh pada penjajah. Tetapi apakah kenyataan sejarah berkata demikian? Faktanya, mereka terus berjuang merebut kemerdekaan dan satu hal yang menjadi keyakinan mereka : sebuah pikiran positif bahwa mereka akan berhasil, itulah optimis. Kini sikap optimis dan semangat juang untuk memberantas korupsi, mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh Rakyat Indonesia, serta hal-hal lainnya perlu dihidupkan kembali dengan siraman usaha dan keyakinan, sehingga persepsi pelajar SD seperti yang diutarakan sebelumnya dapat menjadi sebuah kenyataan yang terbuki oleh keadaan. Oleh karena itu, semangat juang adalah pilar kedua yang perlu ditegakkan kembali mahasiswa di kalangan masyarakat dengan pondasi keyakinan yang kuat dan sikap optimis, sehingga takkan ada kata “menyerah” terlontar dengan mudah. Layaknya sebuah band musik ternama di tanah air berkata “Jangan Menyerah” dan kita sebagai mahasiswa tak boleh menganggap remeh hal-hal kecil. Teruslah berjuang, meski hal itu terlalu kecil untuk diketahui orang lain. Bahkan Pritha Mulyasari tak pernah menyangka akan terkumpul begitu banyak koin bagi dirinya, sebagai hasil bantuan kecil dari pihak-pihak yang mendukungnya.
             Merasa bebas dan tak terbatas, berhak melakukan segalanya serta menghalalkan segala cara merupakan hal-hal yang takkan dilakukan seseorang dengan nilai ketuhanan yang tinggi, sehingga pilar ketuhanan laik ditempatkan sebagai pilar paling utama di antara dua pilar yang lainnya, meski kerap kali berada di bagian akhir sebuah pemikiran. Kemanusiaan yang adil dan beradab takkan tercapai tanpa adanya nilai ketuhanan yang mengakar, dan mengayomi kehidupan tiap warga. Ketuhanan merupakan nilai-nilai yang menjadikan manusia terbatas dalam berperilaku dan mau menegakkan pilar lainnya untuk menggapai Indonesia yang lebih baik. Kebahagiaan sejati bagi mereka yang beragama dan memiliki Tuhan tentulah terukur dari seberapa banyak orang yang bahagia karena perbuatan mereka. Sehingga, dengan nilai-nilai ketuhanan, seperti yang ada dalam sila pertama Pancasila, maka nuansa kehidupan di masyarakat dapat tertata dan terlaksana dengan lebih nyaman, aman, dan tenteram. Saling tolong-menolong sebagai keseharian, dan hidup sebagai sarana untuk beribadah kepada Tuhan, akan membuat siapapun mengekang dirinya dari perilaku menyalahi aturan hukum seperti mencuri, baik mencuri sandal di masjid, maupuan mencuri dengan berpakaian rapi lengkap dengan dasi. Hidup hanyalah satu kali, now or never. Mahasiswa tentu perlu menanamkan nilai ketuhanan dalam dirinya serta menegakkan pilar tersebut agar kedamaian menyertai setiap hela nafas kita semua.
             Heroisme, semangat juang, dan ketuhanan merupakan tiga pilar penting yang perlu kembali ditegakkan dan disokong di kalangan masyarakat untuk menjaga Negara Indonesia agar tetap berdaulat, dan untuk menjadikan Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang sejahtera, makmur serta berbudi luhur, sehingga mampu memenuhi idaman saya, serta teman-teman saya, bahkan mungkin anda, ketika duduk di bangku SD. Sebagai mahasiswa, kita adalah garuda muda yang dipersiapkan untuk mampu terbang, mengepakkan sayap dan terbang setinggi mungkin, menatap masa depan sejauh mungkin, sehingga Negara Indonesia dapat terdengar gaungnya hingga seluruh pelosok dunia, sebagai rumah para garuda yang bercakar tajam dan berparuh kuat, berpandangan luas serta mampu bekerja keras dan bekerja cerdas. Cepat, sigap, tangguh dan tanggap, terbanglah wahai garuda muda, capailah langit di angkasa, terkamlah ular-ular berbisa, selamatkan dan sejahterakan Bangsa serta Negara Indonesia. Jalankanlah perananmu, mari bersama-sama kita tegakkan pilar-pilar kebangsaan..!

0 komentar:

Poskan Komentar